Tuesday, December 29, 2015

Seberapa Berani Kau Bermimpi,

Akhir-akhir ini, hujan sering melanda kampung halaman saya, bahkan per hari ini ketika jam 10 tadi suasana sudah seperti menjelang maghrib saja. Mungkin juga demikian di beberapa daerah di Nusantara.

Beberapa waktu lalu, saya menulis mengenai kesempatan untuk mencapai target yang telah diberikan oleh Sang Maha Agung kepada saya. Ditulisan kali ini, saya ingin memaparkan tentang target-target tersebut. 

Sebagai seorang manusia, sudah selayaknya kita menikmati hidup yang telah dikarunai Allah semaksimal mungkin. Bagi saya, ketika seseorang menjalani kehidupan dalam koridor kodratinya sebagai manusia, itu sudah cukup. Terlepas apakah dia masih merintis, membangun, menciptakan, apapun istilah dan bahasan yang tersemat kepadanya - untuk tidak melihat sosok manusia dalam sudut pandang materialis.

Kalian pernah mendengar ungkapan "jangan terlalu tinggi mimpi, nanti kalau jatuh sakit." atau ungkapan-ungkapan semacamnya. Saya memandang, ada pesan berupa pesimistis terangkai dalam kalimat tersebut. Saya menyesal, hingga kini hal tersebut masih dibuahi oleh masyarakat.

Pada oktober lalu, saya mengikuti kegiatan pembekalan beasiswa oleh LPDP. Kami menyebutnya Persiapan Keberangkatan (PK). Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk tergabung di Ancala Diwangkara (PK-42). Selama PK, banyak hal-hal menakjubkan yang saya dapatkan, hingga kembali menyadarkan betapa tak berdayanya diri ini jika disandingkan dengan hamparan samudera hikmah Sang Pencipta.

Saat PK, gaung-gaung untuk bermimpi tinggi sering dipropagandakan, pun mendengar testimoni-testimoni teman-teman narasumber dan awardee yang teramat menakjubkan. Diri ini kembali kepada gairah bermimpi seluas semesta.

Tahukah kalian, jika sekalinya mimpi yang tinggi tersebut belum bisa diraih? Minimal, kita bisa menapaki sedikit tingkat dibawah mimpi tersebut. Contoh konkretnya, anggapalah kalian memiliki mimpi untuk bisa berlari mencapai lantai gedung 100 lantai dalam 1 jam. Selemah-lemahnya usaha yang kalian berikan, setidaknya dalam 1 jam kalian pasti semakin dekat ke lantai 100, bukan? Saya juga berpikir itu berlaku juga untuk mimpi lainnya, bahkan yang terabstrak sekalipun.

Pada Juli 2014, saya merumuskan tiga buah resolusi kehidupan, hingga akhir masa saya diberikan kenikmatan hidup. Dari resolusi besar itu, saya menuliskan sekitar empat buah target tahunan guna mencapai mimpi utama itu. Pertama, saya menuliskan untuk meningkatkan kampuan wirausaha saya. Saya pernah menuliskannya disini dan disini. Singkat cerita, project-project saya belum menemukan masa kejayaannya. Dan karena Tuhan itu Maha asyik, maka "ditakdirkan" lah saya sekarang untuk menggeluti bidang usaha foto copy dan alat tulis kantor. 

Target selanjutnya berjalan beriringan dan saling melengkapi. Saya ingin meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dan melanjutkan studi magister di luar negeri. Secercah pemaparan akan hal tersebut telah saya tuangkan ditulisan sebelumnya.

Dan target yang menurut saya sangat prestisius. Apalagi kalau bukan karena target tersebut berkenaan dengan tujuan akhir kehidupan seorang anak cucu adam, yakni melengkapi setengah agama-Nya. Saya menikah! Ini merupakan titik tolak dari serangkaian mimpi yang saya coba tata sejak beberapa tahun yang lalu, yakni menikah muda. Waaah, cerita menikah ini mungkin lagi-lagi harus dipaparkan dalam sebuah tulisan tersendiri, karena begitu gemah ripahnya segala macam teori dan kondisi yang melatar belakangi kejadian tersebut.

Well, begitulah sekiranya perjalanan target tahunan saya hingga 2016. Dan, sudah tiba pula menyematkan target periode 2016/2017. Semoga target-target tersebut dapat kembali saya rangkai dalam sebuah cerita kehidupan, InsyaAllah.

Oh iya, sebelum mendekati akhir tulisan ini, apakalian sadar judul tulisan ini bukan sebuah kalimat utuh? Saya sengaja menulis demikian, karena  saya ingin mengakhirinya dengan menuliskan kalimat pelengkapnya.Yakni: "dan Seberapa Berani Kau Berusaha Merealisasikan Mimpi-Mimpimu itu!" Saya percaya, mimpi yang baik haruslah ditindak lanjuti dengan aksi.

Ada sebuah petuah yang sangat menarik, "jika kenyataan tidak seindah mimpimu. Maka, ganti kenyataanmu, tidak dengan mimpimu!"☺.

Saturday, December 12, 2015

TOEFL iBT dan sebuah perkenalan dengan NAK

Bayyinah Institute

Alhamdulillah, target tahunan saya tercapai dipenghujung tahun 2015 ini. Target-target tersebut, insyaAllah, akan saya ceritakan dilain kesempatan. Pada intinya keempat buah target tahunan saya satu persatu terangkai manis dalam perjalanan kehidupan saya.

Salah satu target saya dipenghujung tahun 2014 yang lalu adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris. Tentu saja target ini beriringan dengan target selanjutnya untuk bisa melanjutkan studi magister di luar negeri. Pada akhir masa-masa kuliah sarjana dulu, saya sangat tertarik untuk melanjutkan studi di Finlandia atau New Zealand.

Saya ingat, ketika itu juga saya sedang sibuk berkorespondensi dengan pihak-pihak kampus di Finlandia dan NZ yang ingin saya tuju guna mendapatkan kepastian tentang admission. Salah satu syarat admission kampus-kampus tersebut apalagi kalau bukan hasil tes kemampuan berbahasa Inggris. Jadilah saya mempersiapkan jadwal belajar dan tes. Berhubung saya sudah kadung mempelajari dan mengikuti bahasa Inggris ala Amerika, saya melabuhkan pilihan untuk melakukan tes bahasa dengan TOEFL.

Sial, dengan pengetahuan yang masih minim dan dengan kebelaguan tingkat anak usia puber, saya salah mengartikan antara TOEFL ITP dengan TOEFL PBT. Saya sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti tes TOEFL ITP, dan ketika saya melakukan korespondensi dengan pihak kampus, ternyata hasil TOEFL tersebut tidak dapat diterima. Saya pun membatalkan jadwal tes TOEFL ITP dan kemudian kembali menggali informasi tentang perbedaan-perbedaan tes bahasa Inggris dalam tubuh si TOEFL tu sendiri, dan membandingkannya dengan IELTS. Dan sampailah pada kesimpulan, saya harus memilih untuk mengambil TOEFL PBT (Paper-based Test) atau iBT (Internet-based Test).

Saya bingung!

Saya tidak pernah mengikuti tes bahasa Inggris sebelumnya. Apalagi harus memilih antara dua macam alien tersebut. Tak tau saya bagaimana bentuknya. Dan ketika saya menggali informasi tentang TOEFL PBT, ternyata tes tersebut tidak lagi tersedia di Indonesia, negara terdekat untuk melakukan tes tersebut adalah di Timor Timor.

Pada periode kebingungan ini, saya sedang sering-seringnya bolak balik Aceh Tamiang - Banda Aceh. Selain karena project-project di Rumah Inklusi Madani (RIM) yang saya lakukan di Banda Aceh, juga karena menghabiskan waktu senggang akhir tahun di rumah orang tua sepupu saya si Haekal. Dan memang si Haekal juga berkeinginan untuk melanjutkan studi magisternya. Ketika itu dia banyak mengenalkan saya dengan teman-temannya yang ingin lanjut studi magister bahkan tingkat doktor. Dengan kesempatan tersebut, jadilah saya mendapatkan berbagai masukan tentang tes bahasa Inggris yang akan saya ambil.

Saya mendapat kesempatan untuk kenal dengan bang Baiquni Hasbi, dan kebetulan dia juga akan mengikuti tes TOEFL iBT sebagai syarat mendaftar kampus yang ditujunya. Sedikit banyak saya mendapat informasi dari bang bai (sebutan sehari-harinya) tentang bentuk dari makhluk bernama TOEFL iBT ini.

Waktu saya untuk mempersiapkan segalanya tidak banyak.

Tenggat waktu dari pihak kampus Finlandia untuk melampirkan hasil tes bahasa adalah 14 Februari 2015, yup dihari "kasih sayang", pun begitu dengan kampus di NZ yang memiliki rentang waktu yang hampir berdekatan dengan Finlandia. Sedangkan saya baru mengerti apa itu TOEFL iBT dipenghujung desember 2014 serta membulatkan tekad untuk mengikuti tes pada 31 januari 2015.


ETS selaku penyedia tunggal tes TOEFL iBT ini, memiliki program berupa semacam tabel belajar yang lugas dan efektif sebagai tahapan mempelajari keempat materi tes tersebut. Mereka memberikan target kurang lebih dua bulan agar kita dapat menghadapi tes tersebut dengan baik.

Dan saya hanya punya sekitar 1 bulan.

Diwaktu-waktu sempit dalam mempersiapkan segala hal, mendapatkan dan mempelajari bahan belajar dari bang bai serta dari situs ETS, Haekal kemudian memperkenalkan saya dengan Nouman Ali Khan (NAK). Memang tidak secara langsung, Haekal cuma bilang "kalau mau belajar listening sama speaking, kau harus dengar ceramah ustadz Nouman di YouTube". Seketika itu juga saya mulai mencari materi-materi ceramah ustadz Nouman.

Jadilah saya memasukkan materi-mater dari NAK dan timnya kedalam program persiapan TOEFL iBT, lebih spesifiknya untuk bahan belajar listeing dan speaking. Saya "kesurupan" dalam artian yang sedikit berbeda dari kesurupan yang terjadi di sekitar kalian.


Bila ETS menyarakan porsi belajar 4 jam perhari, saya menggandakannya menjadi 8 sampai 10 jam perhari. Dengan pembagian porsi sejak shubuh menjelang hingga waktu tidur pun datang. Pun saya semakin kranjingan mendengar ceramah NAK setiap harinya, bahkan disela-sela waktu istirahat dari program belajar yang sudah didesain sedemikian rupa. Dan bagi saya, NAK  sangat membantu proses belajar listening dan speaking saya. Well, saya sedikit banyak menirukan metode NAK dalam berbicara. Untuk lebih jelasnya, kalian tanya saja keluarga saya bagaimana saya berbicara sendiri layaknya "orang gila" di dalam kamar. Hal ini juga terjadi karena kurang tersedianya teman belajar di daerah tempat saya tinggal.

Apakah cara-cara ini berhasil? Lagi-lagi saya hanya bisa mengatakan, Ya! Setidaknya bagi saya pribadi. Sebagai acuan, pada awal-awal januari 2015 saya mencoba untuk mengikuti tes TOEFL Prediction di Medan, tanpa sedikitpun mempelajari bahan tentang tes. Dan saya mendapatkan skor sekitar 430 atau 440an, saya lupa skor pastinya. Skor yang terlihat "bodoh" jika menjadi perbandingan untuk mengikuti tes perdana TOEFL iBT diakhir januarinya, pun pula harus mendapatkan hasil yang memungkinkan saya diterima disalah satu kampus tujuan.

Dan bagaimana hasilnya sejauh ini? Lagi-lagi puji syukur kepada Allah, akhirnya dengan hasil tes tersebut saya bisa diterima di Monash University, Australia. Serta mendapatkan pembiayaan studi magister dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Indonesia. Kenapa pada akhirnya Australia? Bagaimana bisa dengan LPDP? Yah, mungkin lagi-lagi kalian harus bersabar untuk mengetahui kelanjutan ceritanya ☺.

 
picture credit to http://noumankhan.com

Tuesday, November 3, 2015

“Short Time” di Kuala Lumpur

Halo dunia, mencoba kembali menyapa dunia tulis menulis maya. Akhir-akhir ini saya kembali tenggelam dalam aktivitas persiapan jenjang masa depan (duileh!) dan menghabiskan waktu saya dengan membaca saja. Rasa-rasanya setelah melihat berbagai fakta kehidupan, saya merasa sedikit minder untuk menulis. Cakrawala ilmu dan pengetahuan serta pengalaman dunia memang tak akan pernah ada habisnya, subhanallah.

Untuk memulai tulisan pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit kisah “short time”  yang saya lakukan dengan dengan istri saya. Wait a minute! Yeah, I’ve been married. Dan nantinya, saya akan menceritakan kisah pernikahan tersebut dilain waktu☺. By definition, short time kira-kira dapat diartikan sebagai waktu singkat. Bukan, saya tidak akan menceritakan tentang short time yang “itu”, tentunya bukan karena saya dan istri tidak menyukainya☺. Akan tetapi, kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman kami melakukan travelling bersama. Setelah menikah, tercatat telah dua kali kami melakukan travelling, atau lebih tepatnya budget travelling, saya juga tidak akan membahasa tentang ­berbagai silang pendapat terhadap definisi tersebut, yang jelas kami melakukan travelling dengan perencaan keuangan minim untuk mendapatkan pengalaman sebanyak-banyaknya☺.

Travelling kami yang pertama adalah setelah acara resepsi di rumah saya ke Pulau Weh, Aceh. Berikutnya adalah perjalanan yang kami lakukan ke Kuala Lumpur, Malaysia yang kami lakukan pada Rabu hingga Sabtu pekan lalu. Sebenarnya, kami tidak memiliki rencana khusus untuk travelling ke sana. Inisiatif ini timbul ketika saya melihat beberapa promo diemail dan beberapa situs penyedia layanan bepergian, baik luar dan dalam negeri. Singkat cerita, kami mendapatkan harga-harga menarik sehingga ketika saya mengutarakan ide untuk melakukan travelling, istri saya serta merta mengaminkannya. 

Maka dirabu pagi tersebut bermulalah perjalanan kami, 

Rabu, 28 Oktober 2015
Kami mengambil jalur penerbangan Medan (KNO) - Kuala Lumpur (Klia2) pada hari tersebut. Karena, jarak rumah kami di Aceh Tamiang - Medan itu hanya berselang 3 Jam dalam waktu normal. Sebelum berangkat saya banyak bertanya dengan beberapa teman yang memiliki pengalaman, atau tinggal di Malaysia. Dan akhirnya, saya berkenalan dengan Resa, salah seorang awardee LPDP asal dari Aceh digrup Whatsapp yang sedang melakukan studi master di sana. Setelah banyak bertanya ini itu mengenai akomodasi di Kuala Lumpur, akhirnya saya mendapatkan "tour guide" selama disana hehe.

Terima kasih juga atas kemudahan transportasi di Kuala Lumpur yang sudah terintegrasi sedemikian rupa sehingga saya dapat mengakses berbagai kemudahan transportasi dalam genggaman saya.

Setibanya di Klia2, saya langsung mengambil bus jurusan Puduraya, dalam benak saya demikian. Karena penginapan saya terdapat kata "Pudu"nya. Namun, ternyata saya salah, penginapan saya malah lebih dekat dengan daerah Bukit Bintang, hanya 10 menit jalan kaki dari sana. Setelah bertanya, saya menyambung dengan sejenis shuttle bus ke hotel tersebut. Sesampainya di Hotel, ternyata Resa kebetulan berhalangan untuk bertemu dihari itu. Jadilah sampai siang hari kami leyeh-leyeh di Hotel, sembari memainkan melodi bak seorang komposer yang dihadiri oleh perabotan serta furnitur di kamar itu☺.

Selama di Hotel, saya tidak menyia-nyiakan koneksi internet yang disediakan hanya untuk streaming video HD di YouTube. Saya menelusuri berbagai wahana serta titik-titik wisata yang berada didekat penginapan saya. Ditindaklanjuti dengan bertanya ini itu kepada tour guide kami, akhirnya kami memutuskan untuk berjalan ke Bukit Bintang, tepatnya di Alor, untuk menikmati tawaran ragam kuliner yang tersedia di sana. 

Sebenarnya sangat menyenangkan melihat berbagi makanan yang ditawarkan disana, jika anda non Muslim tentunya, karena banyak makanan disana berkategori non-Halal. Bagi anda yang memperhatikan kode ini, mungkin anda tidak terlalu suka makan di daerah tersebut. Tetapi, setelah menyusuri jalan Alor dari hulu ke hilir, kami memutuskan untuk makan dideretan toko penjual makanan Halal di sana, kalau saya tidak salah yang menjual agak ke-India-an gitu.
Pesanan makanan kami disore itu
Setelah puas menyantap hidangan, kamipun melanjutkan perjalanan mengelilingi daerah Bukit Bintang dan sekitarnya, hingga kami berada di salah satu sudut tempat pemberhentian bis, GoKL tepatnya. Kembali kemasalah transportasi, pemerintah Kuala Lumpur sangat mumpuni dalam mengayomi kebutuhan para turis berdompet mepet untuk mendapatkan pengalaman secara maksimal di negara tersebut. Salah satunya GoKL ini, seluruh rute yang dibedakan oleh warna Biru, Ungu, Hijau, Merah dapat dinikmati secara gratis! Beragam kebutuhan transportasi publik seperti bis non-gratis juga ditawarkan dengan harga yang sangat murah, begitu juga untuk monorel dsb.

Setelah mengunduh peta rute GoKL dan membandingkannya dengan maps dari Google, kamipun beranjak menuju salah satu landmark Kuala Lumpur itu sendiri, yakni Petronas Twin Towers. Dengan Melayu seadanya, kami memberanikan untuk memastikan rute kepada pihak-pihak terkait seperti satpam salah satunya hehe.

Tak lama, sekitar 10 menit dari sudut pemberhentian bis tersebut kamipun tiba di daerah yang dituju, Petronas Twin Towers. Kebetulan pemberhentian bis itu berada di belakang gedung pencakar langit tersebut, dan kebetulan kami sempat menyaksikan atraksi kolam bergoyang -jika demikian sebutannya- karena air kolam tersebut akan memancar, meliuk-liuk, bergoyang dan berhenti mengikuti lagu yang diputar melalui megafon. Sayang kami tak sempat mengabadikan momen tersebut karena kami larut dalam pertunjukan hebat itu, pun begitu ratusan pasang mata lainnya.

Setelah puas menghabiskan waktu dengan menatap atraksi itu, kamipun mulai untuk berkodak ria di belakang dan di depan gedung. Banyak wisatawan lain, bahkan penduduk lokal yang melakukan hal serupa. Terlebih karena pemandangan yang ditawarkan sangat membahana! 

Mengabadikan momen di depan Petronas Twin Towers
Puas menikmati dan mencari sudut-sudut asik untuk mengabadikan momen, kamipun berlalu pulang ke penginapan. Setelah sebelumnya membeli beberapa kebutuhan disalah satu super market di daerah Bukit Bintang. Dan sepertinya berbelanja di super market sangat bermanfaat bagi para budget travellers, karena harga yang ditawarkan jaaauuuhh berbeda dengan mini market yang berjejer di sepanjang jalan mata memandang. 


Tak lupa pula seluruh episode ekspedisi tersebut kami lakukan hampir sebagian besar dengan berjalan kaki, ya, Kuala Lumpur sangat ramah bagi pejalan kaki. Salah satu aturan main lainnya yang saya peroleh selama ekspedisi hari itu adalah belilah air ditempat-tempat penyedia air publik, teramat murah, hanya dengan 10 sen kita bisa hampir memenuhkan botol air minum 1 liter. 

Sampai di hotel sepertinya sudah agak larut, namun sepertinya waktu tersebut adalah waktu dimana para pekerja di daerah Kuala Lumpur untuk pulang. Maka perjalanan kami ke Hotelpun masih banyak ditemani oleh para pekerja, wisatawan, dan pejalan kaki lainnya. Dengan begitu berakhir pulalah ekspedisi kami dihari itu, pengalaman hari pertama yang menyenangkan.


to be continue..