Thursday, April 2, 2015

Mau tulis apa

Ilustrasi bingung
1 April 2014
Tulisan ini sebenarnya ingin saya turunkan ditanggal 1 April 2014 kemarin, tapi yaaah, begitulah..

Lebih dan kurang sekitar 5 bulan saya "puasa" menuangkan rangkaian melodi kehidupan dalam tulisan-tulisan. Yah, saya sendiri juga bingung mau nulis apa. Berhubung banyaknya agenda-agenda yang ingin saya eksekusi dalam kepala, walaupun hanya beberapa yang menjadi nyata. Menunda-nunda, atau isilah lainnya Procrastination? Ah, mungkin saja. Meskipun satu persatu target tahunan saya mulai menjadi jelas.

Namun demikian, tak dapat saya pungkiri beberapa kegiatan di dunia nyata turut menyeret saya untuk melakukan penundaan tersebut. Dengan adanya beberapa kegiatan yang benar-benar menyita waktu saya untuk belajar dan terus belajar. Yah, saya menghabiskan akhir tahun dan awal tahun saya dengan sedikit lebih intensif untuk belajar.

Saya juga kembali meratapi kebodohan diri disana-sini, setelah kembali mengulas potongan dan kepingan ilmu yang hanya saya tahu secuil demi secuil. Saya merasa bodoh.

Ah, tulisan compang-camping begini mungkin tidak memiliki makna yang terlalu dalam bagi sebagian teman, tapi saya berusaha untuk mengepit kembali gairah untuk menulis yang sudah agak luntur lantaran beberapa realita yang terus meminta saya untuk semakin terprosok didalamnya. Api idealis itu hampir-hampir padam, sungguh berat mempertahankan api itu ditengah-tengah suasana "nyaman" seperti ini, hampir-hampir seperti memegang bara api.

Dengan tulisan ini, saya ingin meraih kembali kepingan idelisme yang mulai-mulai redup tersebut, yah semoga.

picture credits to uploader/site: helmirajaya.co.id

Sunday, October 26, 2014

Ontel, 1 Muharram 1436 Hijriah, and The (forgotten) Golden Age.

Ah, Kampung Inggris.
Telah saya habiskan beberapa hari di sebuah desa, di daerah Pare, yang kondisi sosial-pendidikan masyarakat di tempat tersebut salah satunya bertopang dari ratusan lembaga kursus bahasa, Inggris salah satunya, menjamur. Layaknya jenis yang mendapatkan pupuk dan pengairan terbaik.

Kondisi kampungnya tak jauh berbeda dari kampung-kampung lainnya, seperti akses jaringan internet, yang lebih mengutamakan penggunaan layanan internet kabel. Dan saya sebagai seorang pengguna internet yang bergantung pada kondisi jaringan harus sering-sering mengelus dada, dalam-dalam.

Yah, sinyal internet, provider saya utamanya, merupakan satu hal yang tidak tertular kejayaan di daerah ini.

Namun, dibalik itu semua, Kampung Inggris memiliki corak, warna, dan daya tarik tersendiri. Yah, namanya juga kampung, pastilah tidak banyak berbeda dari keadaan dan suasana kampung-kampung lainnya dibelahan penjuru Nusantara tercinta. Namun, tetap ada juga hal membedakannya dari daerah-daerah lain, seperti cara tampilan dan kemasan yang dipadu padankan, sehingga menimbulkan corak yang unik lagi menarik.

Ekonomi masyarakat yang masih ditopang secara besar dari garapan sawah dan kebun, terkadang juga sebagian menggantungkan hajat hidupnya dari peternakan hewan, ikan misalnya, namun dapat bersinergi dengan banyaknya kursus-kursus yang terdapat di daerah ini. Sehingga semakin bertambahlah jenis pendapatan dari masyarakat di daerah ini. Seperti memberikan layanan kos-kosan bagi para perantau, penikmat yang rakus akan ilmu bahasa, bahasa asing.

Disamping itu, terdapat pula rental-rental kendaraan yang menjamur, dapat ditemui disetiap sudut kampung, yang paling mencolok yah itu, rental sepeda. Model transportasi yang jamak dipakai di daerah kampung ini adalah sepeda. Bersepeda menelusuri jejak-jejak kampung, hingga ke penjuru paling ujung kampung tersebut. ramah lingkungan, menyenangkan rangkap melelahkan.

Saya sendiri mengambil sebuah jenis sepeda untuk dipergunakan selama saya berada di sini. Ontel, ya jenis sepeda yang digandrungi oleh manusia-manusia diera-era awal rangka-rangka dapat berpadu dengan roda, dan berjalan! Jenis transportasi yang selalu mendapat tempat dalam cerita dinovel-novel klasik.
Ontel dan Saya
Mengontel ternyata menyenangkan, terbangun dalam bayangan saya bagaimana keadaan jalanan Nusantara dahulunya ketika model transportasi sepeda kayuh menjadi yang paling tren dimasanya dulu. ah, sungguh menyenangkan rangkap melelahkan.

Dan satu lagi, ternayata keberadaan saya disini hampir mendekati dengan pergantian tahun baru Islam, 1436 Hijriah.
Riuh perayaan pergantian tahun barupun mendapat tempat tersendiri bagi warga sekitaran Pare. Long march yang kebetulan berakhir di Kampung Inggris salah satunya. Long march tersebut, yang jika tak salah saya melihat, diikuti oleh sekitar tiga puluhan lembaga pendidikan anak-anak usia TK dan TPA di daerah ini. Yah, jika saya tak salah lihat. 

Konsep perjalanan yang dilakukan Rasulullah SAW. Beserta sahabat-sahabatnya dari Mekkah ke Yastrib coba disimulasikan pula oleh peserta pawai tersebut. yaitu bergerak dari sebuah titik hingga mencapai “finish” di daerah Kampung Inggris ini. Ah, sungguh sebuah pemandangan pagi yang begitu indah, diselingi dengan shalawat, lantunan-lantunan syair, yel-yel, yang masing-masing berbeda dari tiap-tiap regu!

Beberapa momen yang sempat saya abadikan
Ah, sungguh! Seandainya Umat memaknai perjalanan tersebut, sebuah perjalanan perluasan pengaruh Islam, melalui sebuah kekuatan yang terhimpun dalam sebuah Daulah Islamiyah, InsyaAllah, layaknya dahulu, Umat bisa berdiri tegak selama ribuan tahun lamanya, ketika Umat dipersatukan dalam sebuah naungan kekuatan, ketika antara satu muslim dibenua Afrika se-iya sekata dengan yang di benua eropa, dan sebagian Asia.

Ah, masa-masa gemilang, the forgotten era of the golden age of Islam, sudah selayaknya setiap Muslim di penjuru dunia merindukan masa-masa tersebut. dan sesuai nubuah Rasulullah SAW. Yang pasti akan kembali tegak! Tidak atau beserta pertolongan dari sebagian dari kita.

Dan usaha dalam pencapaian hal tersebut, telah pula diusahakan saat ini oleh saudara-saudara kita di Timur Tengah sana. Yang berjuang untuk menyatukan seluruh muslim dalam satu Bendera.

Akankah kita bisa menikmati saat-saat penyatuan tersebut? tak lah mungkin kita tahu, rahasia Allah SWT. yang telah terhimpun dalam Lauhul Mahfudz-Nya. Hanya kerinduan dan doa-doa yang dapat dipanjatkan untuk dapat menikmati masa-masa kejayaan yang pasti akan terjadi tersebut. Ah, sebuah kerinduan! seperti yang terdapat dalam sepenggal lirik milik John Lennon, ... And the world will live as one.

Finally, saya ingin pula mengucapkan selamat tahun baru, Tahun Baru Islam 1436 Hijriah! Tak apa, biarpun telat, setidaknya saya mencoba dibalik sedikit kendala yang ada. Have a great year, and new adventure!

Pendampingan, Sebuah Project untuk English-Area

23 Oktober 2014

Beberapa hari sebelum tanggal tersebut, saya mendapatkan tawaran dari ayahanda, untuk mendampingi siswa Sekolah Sumber guna melaksanakan program belajar ke Kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Sebuah awal dari project yang digalang, untuk menciptakan semacam English-Area, yang pada awalnya terkhusus di kawasan asrama Sekolah Sumber Pembina Aceh Tamiang.

Saya, bersama dengan tim dari RIM lain, yang sedang gencar-gencarnya melakukan program sosialisasi dan workshop untuk membentuk Sekolah Sumber sebagai salah satu syarat untuk terciptanya kondisi ideal Pendidikan Inklusi, terpaksa harus memutar otak . Untuk melanjutkan program-program tersebut atau menundanya, untuk sementara.

Sampailah akhirnya ayah memaparkan program-program yang akan dilaksanakan nantinya hingga harus memberangkatkan beberapa perwakilan siswa ke Pare. Dengan seksama saya mendengarkan, mencermati, serta menimbang barang berapa kali timbang terhadap pemaparan tersebut. dan akhirnya saya memantapkan pilihan untuk mendampingi dan membimbing siswa selama beberapa minggu di Pare.

Saya juga menyimpulkan program ini dapat dikatakan sebagai salah satu pelaksanaan proker dari RIM sendiri, yakni yang berhubungan dengan Program Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus.

Sebelum masuk ke ruang tunggu di bandara Kuala Namu
Jadilah saya, pada tanggal seperti yang tertera diawal tulisan ini. Berangkat bersama sang Kepala Sekolah sendiri berikut 11 orang lainnya, menggunakan pelayanan dari sebuah maskapai udara, dari Medan menuju Surabaya.

Perjalanan udara tersebut memakan waktu sekitar 4 jam lamanya. Dan kami harus melanjutkan perjalanan darat dari Surabaya menuju Pare. Dan akhirnya diakhir malam menjelang waktu shubuh, tibalah kami di tempat ini. Tempat yang memberikan pelayanan kursus berbahasa inggris bagi para penikmat keilmuan tata bahasa dari seluruh penjuru Nusantara, dan beberapa Negara Tetangga.

Gelap dan pekat malam masih menyelimuti tempat ini ketika kami tiba, dan kami yang harus menunggu sang Fajar yang tak pernah melupakan tugasnya untuk menyingsing harus bersabar dengan kondisi yang apa adanya. Lumayan lama, hingga akhirnya ketika menjelang tengah hari baru mendapatkan pemondokan sebagai tempat berteduh.

Sang Kepala Sekolah sendiri tak berapa lama, harus langsung menuju daerah tengah pulau Jawa, tentu saja setelah menyelesaikan keperluan-keperluan siswa yang akan belajar di Kampung Inggris ini. Jadilah, saya total mendapatkan mandat dan kepercayaan untuk mendampingi dan membimbing siswa-siswa tersebut sebagaimana pembicaraan kami beberapa hari sebelumnya selama beberapa minggu di Kampung Inggris ini.

Yah, bagaimana kelanjutan dari program-program yang akan kami jalankan, mungkin akan tertuang kembali dalam beberapa tulisan. Dan semoga salah satu program Penelitian RIM dapat juga terlaksana berbarengan dengan kegiatan saya yang saat ini dan untuk beberapa minggu kedepan tidak bisa berada di Tempat sebagai mana mestinya. InsyaAllah.

Melepas penat di sore hari, bersepeda!

Monday, October 6, 2014

Teman dan Kopi, dan juga (banyak) prihal tentang Wanita.

Ah, teman. Selalu saja ada cerita yang terjadi ketika berhadapan dengan makhluk tuhan dalam entitas kita sebagai makhluk sosial ini. Baik itu cerita yang akan segera dirajut, yang sedang berjalan, atau sekedar melepaskan luapan beberapa kenangan masa lalu yang masih terpatri dalam memori jangka panjang, terlebih kenangan konyol bin banyol usia belasan sekelompok ABG labil.

Haha, benar. Saya rasa memang tahapan tingkat kedewasaan manusia sudah sedikit mengalami pergeseran dan penambahan dari definisi awal beberapa ahli dalam kurun satu dekade silam. Ada penambahan tahapan sebelum seseorang itu disebut manusia dewasa. Ya, ABG dengan embel-embel labil merupakan tahapan perkembangan tersebut.

Tadi malam, saya kembali bertemu dengan komplotan manusia yang dulunya tergolong kategori yang saya bahas diatas, tidak, sekarang komplotan tersebut sedikit demi sedikit sudah mulai dipaksa untuk mencerna realita kehidupan. Kategori tersebut berlaku sekitar satu dekade silam. Dan sayapun menyadari, kami perlahan melangkah kejenjang usia yang lebih matang, dengan lebih menjadikan realita kehidupan sebagai sudut pandang.

Pertemuan tadi malam mengambil latar dan tempat disebuah warung kopi pinggiran jalan kota berdebu, Kuala Simpang. Rumöh Kupi namanya.

Seperti layaknya setiap manusia yang berada di warung kopi, tentulah kopi menjadi teman cerita yang wajib hadir ditengah hiruk pikuknya pekikan orang-orang di tempat itu. Ditambah lagi, dengan adanya acaranya nonton bareng pagelaran Liga Inggris, semakin menambah semarak suasana, yang memang sudah sangat riuh tersebut.

Selepas menyelesaikan urusan kepada Tuhan diwaktu petang, saya langsung meluncur ke lokasi pertemuan, dan ternyata sudah ada 3 orang teman saya yang duduk dengan menikmati cangkir-cangkir kopi setengah terisi mereka sambil bercengkerama, saya kira saya agak telat datang.

Saya diberitahukan untuk datang selepas maghrib, tapi entah apa yang berada dalam pikiran mereka bertiga untuk langsung nongkrong disitu sejak jam 6, entahlah, mungkin karena memang ingin sekedar lebih cepat duduk bareng.

Pembicaraanpun dimulai dari hal-hal yang terjadi di dunia ini, karena sesungguhnya bukan kapasitas kami untuk membicarakan hal-hal di dunia ghaib, yakni seputar kuliah, pekerjaan, dan wanita. Ya, untuk urusan yang terakhir itu entah kenapa memang selalu dapat menjadi bahan yang tak pernah habis untuk dibahas, dan pasti selalu dapat membangun kenangan-kenangan yang beragam ketika membahasnya.

Setelah beberapa lama, mulailah formasi itu satu persatu dilengkapi, dengan berdatangannya teman-teman yang lain. Hingga sekitar pukul 10 kurang, kami sudah berjumlah 10an orang. Pembicaraanpun terus berlangsung, diselingi dengan teriakan disana sini para penikmat olahraga perebutan sebuah bola.

Seperti yang saya katakan tentang urusan yang terakhir tadi, pembicaraan kamipun masih berkutat diseputar hal tersebut. Bukan maksud saya untuk merendahkan kapasitas kaum hawa, sejauh kaum adam membahas hal tersebut, bukankah masih termasuk dalam taraf berlogika? Jauh hasilnya jika kami membahas kaum adam lainnya, #Eaaa

Kelucuan saat-saat memiliki seorang teman dekat-jika tidak bisa dikatakan seorang pacar, kisah-kisah percintaan-monyet-antar sesama sahabat, kisah berkirim surat dengan adik kelas, dan beragam cerita lainnya yang mengambil tema kaum wanita, sungguh indah jika boleh dikatakan, sebuah tema yang berujung dengan beragam rupa. Ah, terlalu luas.

Tentu saja, pembahasan lainnya juga mengambil porsi percakapan tadi malam, seperti taktik dan teknik Mou dalam meracik strategi menghadapi Sang Profesor, kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, kearah dan wilayah mana kaki ini akan digerakkan, dan beragam percakapan lainnya.

Dan akhirnya, tentu saja sebagaimana setiap makhluk juga memahaminya, waktu dan kondisi jua lah yang memisahkan kami semua, setelah lagi antara dua rival dari Kota London tersebut berakhir, kamipun harus mengakhiri pertemuan kami. Mungkin, dilain kesempatan akan banyak teman sekelas yang akan bergabung, mungkin ditahun depan, atau disaat luang lainnya, ah kita lihat saja.

Hanya langkah, pertemuan, maut yang sudah dituliskan dalam Kitab-Nyalah yang akan menjawab itu semua. Terakhir, terima kasih kepada semua yang sudah bergabung malam tadi atas waktunya, mungkin dilain cerita akan kita bahas kaum hawa-kaum hawa lainnya #Eh

Saya dan teman-teman masih bertanya-tanya dari mana lintasan cahaya putih tersebut berasal?
Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-sebesarnya kepada Jose Mourinho, yang masih memberikan racikan terbaiknya sehingga dapat mempertahankan clean sheet tak pernah kalah selama tujuh pertandingan terakhir, Keep The Blue Flag Flying High!

Friday, September 26, 2014

Sosialisasi dan Diskusi Lanjutan Mengenai Sekolah Sumber

Kemarin, atau tepatnya tanggal 25 september 2014, saya dan teman-teman dari Rumah Inklusi Madani (RIM) kembali menggelar prosesi sosialisasi dan diskusi kepada Guru-Guru di Sekolah Sumber (SLB, red). Kegiatan yang kami adakan ini adalah lanjut dari kegiatan sosialisasi dan nantinya, workshop, kepada guru-guru di sekolah tersebut yang telah diawali pada tanggal 13 september 2014 sebelumnya.

Kegiatan yang dilakukan kemarin masih membahas dan menginformasikan kepada guru-guru di sekolah tersebut akan peran mereka nantinya ketika telah berbicara mengenai Sekolah Sumber dalam konteks Pendidikan Inklusi. Dalam kegiatan tersebut kami, dari pihak RIM, memaparkan hal-hal atau pekerjaan tambahan yang nantinya akan dilakoni oleh guru sekolah sumber ketika program sekolah sumber tersebut telah berjalan tentunya.

Sebenarnya, program kegiatan tersebut memang telah dilaksanakan oleh guru-guru di sekolah tersebut, dan juga guru-guru di sekolah sumber lainnya. Namun, terkadang kegiatan tersebut tidak terlaksana dengan sebagaimana mestinya, atau paling tidak guru-guru melaksanakan kegiatan tersebut namun tidak memahami makna dari kegiatan yang dilakukannya. Nah, inilah hal-hal yang coba kami tekankan, sehingga guru juga memahami pekerjaan dan peran mereka, baik saat ini atau ketika telah berperan sebagai guru sumber nantinya.

Dalam prosesi kali ini, setelah penyampaian materi tentunya, lebih banyak terjadi diskusi yang membahas tentang kasus-kasus dan pendapat-pendapat para guru tersebut. Dan kami dari RIM sendiri mencoba menjawab sebisa yang kami mampu akan permasalahan-permasalahan tersebut.

Contohnya seperti ketika terjadi pembahasan mengenai jam kerja/beban kerja sebagai guru sumber yang belum memiliki payung hukum. Dan jika nanti kedepannya program tersebut berjalan mereka akan kesusahan ketika harus menginput data ke dapodik. Karena memang tak terincikan beban kerja guru sumber disini.

Nah, hal-hal seperti inilah nantinya yang akan RIM tinjau kembali, dan berkoordinasi dengan pemangku kebijakan serta pengambil keputusan, untuk memperhatikan detail-detail seperti ini, agar guru mendapatkan reward yang sesuai dengan beban yang mereka kerjakan. Atau minimal pekerjaan yang mereka lakukan benar diakui oleh pemerintah.

Tak luput juga diskusi tentang SDG (sumber daya guru) yang akan ditambahkan sebagai guru sumber, hingga fasilitas dan logistik yang selayaknya ada nantinya ketika Sekolah Sumber itu berfungsi sebagai mana mestinya.

Akan lebih banyak lagi diskusi yang akan kami lakukan terkait Sekolah Sumber ini tentunya, sebagaimana yang kami alokasikan untuk tetap diadakan minimal setiap 2 minggunya, agar nantinya ketika program Pendidikan Inklusi ini diberikan ke Sekolah Reguler guru di Sekolah Sumber sudah mantap dengan berbagi peran mereka, pola kerjasama yang akan dijalin dengan berbagai profesi, organisasi, lembaga, instansi, serta memiliki payung-payung hukum akan kegiatan atau pekerjaan yang mereka lakukan.

Pekerjaan rumah yang besar juga bagi RIM untuk memperhatikan dan mengkaji hal-hal tersebut nantinya, sehingga kami mengharapkan tidak lagi terjadi yang namanya program “Inklusi-inklusian”. Dimana tidak terjalinnya hubungan kerjasama yang sistematis dan terorganisir antar lembaga umumnya, serta lembaga penyelenggara pendidikan khususnya. Lebih jauh, RIM juga berharap agar tidak ada lagi sekat pemisah antar lembaga penyelenggara pendidikan, sebagai mana kini kita ketahui bersama semacam ada sebuah sekolah yang favorit, bonafit, dsb. Jika memang hal tersebut terjadi, bukankah sudah pasti ada sekolah yang tidak favorit? Lalu untuk apa sekolah tersebut tetap menjalankan kegiata belajar mengajarnya? Bukankan selayaknya semua sekolah dan guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan di Indonesia ini harus seluruhnya favorit? Sehingga semakin banyak tujuan dan pilihan yang dapat dipilih oleh calon siswa nantinya.

Nah, hal-hal seperti ini yang bersama harus kita perhatikan, dan dikaji ulang. Agar Tujuan utama tentang pelayanan pendidikan untuk semua anak tanpa terkecuali sebagai mana yang diamanatkan oleh Al-Qur’an, Pancasila, serta UUD 1945. Suatu pekerjaan besar yang harus dimulai sejak sekarang, InsyaAllah.